Perpisahan tanpa kata, senyum atau tangisan. Beberapa orang
bilang kalau itu perpisahan idaman. Layaknya maling yang mengendap
keluar rumah tanpa jejak dan berusaha tak memunculkan sedesah suara pun.
Seperti angin malam yang membuat bulu tangan dan kaki berdiri tapi kita
tidak bisa mendengar bunyi yang kencang. Seperti rasa asin pada nasi
gorengku sore ini, aku tak melihat sebongkah garam tapi rasa yang
terlalu kuat itu menusuk salah satu bagian lidahku. Sesuatu yang mungkin
membuat tidak tenang orang yang membuatnya dan membuat perasaan jengkel
bagi yang merasakan. Entahlah. Itu tidak menyenangkan. Entah bagaimana
dengan kemarin, yang aku rasakan sekarang tidak menyenangkan. Aku benci.
Rasa benci yang sulit aku pisahkan dengan sebuah kata rindu. Sebuah
kata yang sekarang menjadi rasa. Rasa dalam hati yang perlahan merasuk
jiwa. Jiwa yang selalu mencari jati diri namun sekarang ia lelah. Lelah
untuk berfikir atau merasakan orang lain yang hadir dan pergi. Pergi
untuk seminggu, sebulan, setahun, sewindu atau mungkin tak kembali. Tak
kembali untuk mengucapkan selamat tinggal yang tertunda atau
mengungkapkan penyesalan. Penyesalan yang tak dapat diartikan masih
berarti atau sudah lama terseret arus kehidupan. Kehidupan yang entah
kemana sekarang akan aku bawa. Aku bawa menghilang atau aku pertahankan
dengan rasa. Rasa rindu yang terbalut kata benci.
Ini sudah malam, pohon yang tak terlihat jelas hanya dengan pantulan
cahaya bulan yang menampakkan sebagian dari keindahannya mengisyaratkan
rasa dingin dengan tetesan air yang jatuh perlahan dari daun-daunya
karena hujan deras sejak sore tadi. Hatiku sekarang juga dingin,
diisyaratkan dengan air mata yang mulai mengering sejak dia jatuh dari
sudut mata bulatku beberapa menit lalu. Aku benci tapi aku rindu. Aku
rindu tapi aku benci. Entah harus kata benci atau kata rindu yang aku
dahulukan. Aku mulai tak peduli karena seakan kata-kata yang sudah
menjelma menjadi kata kerja aktif itu mulai mengerakkan hati, pikiran
dan kantung air mataku. Lagi. Aku ingin didekap. Hangat tangan dan rasa
hangat dari orang-orang yang menyayangiku, mereka yang aku rindu. Aku
merindukan mereka sejak lama. Sejak dua hari aku berpamitan dalam bisu.
Aku pergi tanpa rangkaian kalimat perpisahan ataupun peluk selamat
tinggal. Tuhan, biarkan air yang telah jatuh dari pohon tadi memberi
kehidupan pada tanah yang sekarang dia temui dan biarkan aku melanjutkan
kehidupan seperti sang air yang menemukan rumah baru.
Sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru bagiku. Bukan kejadiannya tapi
tempatnya. Aku menghilang bukan ke sebuah tempat baru yang belum pernah
aku kunjungi sebelumnya. Aku pulang. Aku berada di kota dimana aku
dilahirkan, belajar berjalan, mendapatkan teman, berkenalan dengan
tetangga dan tempat dimana aku dibesarkan. Aku mengenal tempat ini
selama aku hidup, dari dulu hingga sekarang. Aku baru saja
meninggalkannya. Sekitar satu semester. Ya, semester. Sebutan khusus
untuk masa belajar anak-anak bersekolah. Aku seorang mahasiswi.
Mahasiswi tingkat awal lebih tepatnya. Aku menikmati hidupku di tempatku
menimba ilmu dulu. aku bangun dengan semangat pagi yang membawa tanda
kehidupan dan semangat di setiap hari baruku, walaupun tidak setiap hari
begitu. Tapi aku menikmatinya. Aku bersyukur atas semuanya, teman yang
baik, dosen yang hebat, kegiatan positif, keistimewaan karena anggota
organisasi, kekeluargaan beberapa komunitas kampus, orangtua yang
mendukung dan seorang pacar yang setia. Sungguh, aku bersyukur. Ucapan
penuh syukurku aku utarakan kepada Tuhan di setiap doa malam sebelum
tidur.
Entah kapan pikiran untuk menghilang dari kesenangan masa kuliah itu
aku rencanakan. Mungkin sekarang aku menyesal tapi mungkin juga tidak.
Jujur saja, rasa sesal terbesar adalah saat aku merindukan teman-teman
yang sudah aku anggap menjadi keluargaku, sebuah keluarga baru dari ibu
yang berbeda karena memang tidak ada saudara dekat di kota kecil
tempatku mengais pengetahuan yang aku yakini menjadi bekal masa depanku,
lebih tepatnya pengetahuan yang pernah aku yakini menentukan hidupku
kelak. Pernah. Satu alasan aku dapat untuk pindah. Coba aku ungkapkan
alasan selanjutnya. Aku capek. Ya, kegiatanku terlalu padat dan aku
tidak dapat membaginya dengan waktu istirahat kan. Hmmm. Alasan kedua
adalah manajemen waktu yang jelek. Aku bodoh but it was me. I do not
feel shy at all because I am different now. Alasan terakhir atau mungkin
bukan alasan terakhir adalah aku kangen, kangen rumah dan kangen dia.
Pacarku berada di kota yang berbeda, sekitar 800 kilometer jarak yang
memisahkan kita. Aku di ujung pulau ini dan dia ada di ujung lainnya.
Terdengar lebih bodoh karena aku masih terlalu muda untuk memutuskan
sesuatu untuk cinta yang umurnya tak jauh beda dengan banyak hari yang
aku lalui di tahun ini. Tapi aku merasa sangat sepi. Akhirnya aku
menemukan jawabannya. Aku merasa sepi di tengah kehangatan teman-teman
dan aktivitas baru yang padat. I was feeling that I was not me. I was
doing what I was not supposed to do. I was someone else who I’ve ever
known before. I was not who I am.
Those reasons have been being too abstract for me and (maybe) for you. Karena memang tak ada satu pun yang terlihat jelas mengapa aku ingin pindah. Atau semua alasan itu adalah alasan yang sama kuatnya mengapa aku pindah.
—
I remember, all the laughter we shared,
All the wishes we made, upon the roof at dawn
Do you remember?
When we were dancing in the rain in that December…
All the wishes we made, upon the roof at dawn
Do you remember?
When we were dancing in the rain in that December…
Mocca-I Remember. Tepat menari indah di telingaku. Aku ingat semua
kenangan saat aku bersama mereka dan bersamaan aku mengingat saat aku
menghabiskan waktu dengan dia. Entah dia yang mana. Orang yang pernah
menjadi spesial di sana atau orang yang masih spesial di sini. Aku tak
mau merumitkan hidupku. Tapi ternyata cerita rumit lebih seru untuk
ditulis.
Makan yuk? Aku lapar.
Pesan singkat yang benar-benar mengerti arti lugas dari kata singkat.
Dia lebih muda dari aku walaupun aku adalah angkatan paling muda di
kampus itu. Bukan berarti dia adalah anak sekolah menengah atas atau
malah sekolah menengah pertama, dia hanya lebih dahulu masuk SD-seperti
yang dikatakanya dulu di perbincangan awal kami- seakan mengisyaratkan
bahwa dia juga laki-laki yang pintar. Ya memang dia pintar. Pintar
menarik mata dan hatiku. Dia cukup keren di mataku. Dan di pikiranku.
Oke. Dimana?
Ternyata kelugasan sejati tetap menjadi ciriku. Aku bangga akan itu.
Aku orang jawa. Orang jawa terkenal halus dan senang berbasa-basi, namun
teman-temanku terbiasa dengan aku, gadis jawa yang berbeda.
Selanjutnya dia membalas dengan sedikit lebih panjang.
Di rumah makan depan asrama. Aku bingung mau makan apa. kamu aja yang nentuin. Aku tunggu di gerbang cewek ya. See yaaa :)
Kata lugas sedikit luntur berbalut rasa hangat dan kalimat mesra untuk seorang ‘teman’. Aku tersenyum. Entah apa yang dikatakan orang lain. Mungkin mereka menuduhku selingkuh. Aku tidak peduli dengan mereka. Aku bosan. Aku sepi. Rasa yang membawaku untuk pergi. Maaf kepada orang yang mungkin sedang menunggu smsku, dia yang jauh dipisahkan oleh jarak dan waktu. Jujur. Aku menyesal. Sekarang.
Kami pergi sesekali di kota kecil itu. Menghabiskan waktu
menyenangkan dengan mengitari jalanan yang belum pernah kami lalu,
menaiki sepeda. Setelah capek, kami berdua duduk di sisi jalan sampai
akhirnya dia bangkit berdiri karena aku merengek meminta es krim yang
ditawarkan lewat bunyi bel sepeda berwarna merah kuning waktu itu.
Paddle Pop Rainbow Power. Thank God, dia mulai mengingat rasa favoritku. Ucapan syukur yang sekarang tetap aku sesali walaupun ada senyum tersirat saat mengingatnya. Bahagia. Keindahan saat mengenal dia.
Paddle Pop Rainbow Power. Thank God, dia mulai mengingat rasa favoritku. Ucapan syukur yang sekarang tetap aku sesali walaupun ada senyum tersirat saat mengingatnya. Bahagia. Keindahan saat mengenal dia.
Tunggu. Orang yang aku panggil ‘mas’ mengetahui es krim favoritku lebih dulu. Dia juga yang biasa membawakannya sebagai ungkapan maaf bila aku kesal. Lalu aku akan mulai tersenyum dan tertawa lagi. Dengan dia. Tuhan, betapa jahatnya aku dulu. Lagi lagi aku menyesal. Entah untuk keberapa kalinya. Aku menyesal. Maaf, Mas.
Aku pernah mengajak Mas Graha putus beberapa kali dan dia tetap bersikeras bertahan. Dengan suara gitar yang terdengar lewat telepon genggam dia menyanyikan sebuah lagu paling romantis di dunia, menurutku.
And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find
Lagu yang indah mengalun hingga otakku merinding. Satu lagu romantis
dari seorang penyayi asing, Jason Mraz. I won’t give up. Aku senang,
sedih, terharu dan menyesal mendengar lagu itu. Hah. Tetap ada kata
penyesalan. Pernah beberapa hari kelam dalam hidupku hanya mengenal kata
sesal. Kebanyakan adalah aku yang aku sesali. Kenapa aku. Dan mengapa
aku. Aku menyesal karena aku.
‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give…
I won’t give up on us
Some even fall to the earth
We got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give…
I won’t give up on us
Ya. Dia tidak menyerah begitu saja. Untuk kami. Karena dia percaya,
Tuhan memberi cobaan untuk dilalui dan semua yang Tuhan berikan akan
indah pada waktunya. Dia membuatku percaya akan kalimat indahnya itu. We
will not give up on us. I will not give up on us. I hope you will
always be who you were. Now, you are still the same.
“Sayang?”
Suara itu. Suara yang sungguh aku damba. Dia Mas Graha. Dia lebih cepat dari dugaanku. Aku rasa baru sepuluh menit lalu dia mengirim pesan singkat.
Aku ke rumah sekarang. Sampai ketemu, sayang :)
Mas Graha juga mengenal kelugasan. Namun dia romantis. Lugas yang romantis lalu menjadikan romantis dengan cara lugas. Aku mengenalnya hamper setahun dan aku mempercayainya seperti kami sudah saling mengenalku seumur hidup. Aku berharap kami akan selalu memahai seumur hidup, di hari esok.
“Eh. Kamu udah dateng, Mas. Kok cepet?” pertanyaanku membuat keningnya mengerut.
“Oya? Padahal tadi aku berhenti beli bensin dan mmm dan beli rainbow power buat kamu,” tangannya mengulurkan sebuah plastik putih yang terasa dingin karena es krim di dalamnya.
Mungkin aku yang terlalu asik dengan rasa rindu pada diriku yang lama dan rasa benci pada diriku sendiri sekarang. Aku suka mengamati dan merasakan hal yang telah kulalui. Untuk refleksi, memperbaiki diri. Alasanku saja. Kadang aku hanya ingin. Meski keinginan itu lebih sering menyiksaku. Tapi terkadang tetap ada senyum yang sembunyi di balik tangis tersiksa. Sedih yang menyenangkan.
“Hehe. Makasih, sayang,” senyum ikhlas aku berikan pada dia, yang selalu dan terlalu sabar menghadapi aku.
Aku sangat bangga memiliki dia di sisiku.
“Oya. Si rainbow power itu aku kasih biar kamu semangat. Semangat buat ujian masuk besok. Hidup baru. Tempat baru. Teman baru. Dosen baru. Kampus baru. Pacar lama. Hehehe,” ucapnya sambil terkekeh. Mengerlingkan mata dan berubah menjadi wajah serius. Mas Graha memang selalu serius dengan ucapannya yang terkadang dibalut dengan sense humor. Aku kagum.
“Iya. Makasih, sayang,” balasku gemas sambil tertawa.
Ingin sekali aku memeluknya. Mendekapnya sehingga dia tidak akan pergi. Tapi dia tetap akan pergi. Liburannya sudah berakhir. Dia tetap tidak akan bersekolah di kota yang sama dengan aku. Jauh. 300 kilo meter. Enam hingga tujuh jam jika ditempuh dengan bus. Aku sudah rindu. Membayangkan dia akan pergi saja aku sudah rindu. Aku takut. Walaupun dia pergi untuk kembali. Kembali mengucapkan selamat pagi, siang, sore atau malam. Malam yang selalu indah ditemani bulan, bintang dan dia. Dia yang pergi dengan rangkaian kalimat perpisahan dan peluk sampai jumpa.
Cerpen Karangan: Clara Carissa
Blog: kemudianlalu.blogspot.com
Blog: kemudianlalu.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar